Yuk, Cari Tahu “Angka Cukup” Kita

Berapa sih sebenarnya angka cukup kita?

Saya mengenal konsep angka cukup ini dari Youtube-nya Mas Jay (Jaya Setiabudi). Buat yang belum mengenal mas Jay, pasti pernah denger YEA atau Yuk Bisnis. Nah, beliau adalah foundernya. Google sendiri ya…

Dalam videonya yang membahas tentang angka cukup (sampai saya ulang 2x materinya), Mas Jay mengingatkan kepada audiens bahwa setiap orang harus tahu angka cukupnya masing-masing. Untuk versi yang lebih pendek, bisa juga tonton videonya yang ini:

Angka cukup saya dengan Anda mungkin akan berbeda. Sebab, kita memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda.

Anda yang memiliki gaji bulanan sebesar 5 juta rupiah misalnya, bisa jadi masih merasa kurang sebab tagihan atau cicilan Anda sebesar 4 juta. Sisanya mana cukup buat makan sehari-hari dan lifestyle?

Tapi bagi saya, 5 juta adalah angka yang besar. Gaji saya di kantor dulu hanya setengahnya. 5 juta bagi saya sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saya sehari-hari.

Maka, saya tidak akan menghitung angka cukup dari seseorang, melainkan mengajak Anda untuk berpikir ulang tentang makna angka cukup ini.

Saya akan contohkan dari diri saya sendiri. Beberapa kali saya membuat catatan-catatan kecil pengaturan keuangan rumah tangga saya di notes handphone. Ada suatu masa saya mencatat semua pemasukan dan pengeluaran saya sekecil apapun itu (pakai metode Kakeibo).

Kurang lebih 6 bulan saya melakukannya, saya menarik kesimpulan bahwa sebenarnya pengeluaran kebutuhan hidup keluarga kecil saya yang layak ada di kisaran angka 2.500.000 s/d 3.000.000 rupiah.

Jika saya menabung, maka saya membutuhkan lebih dari 3 juta.

Relatif rendah ya…? Iya, karena saya tinggal di kota kecil dengan biaya hidup yang relatif rendah. Saat ini saya juga masih tinggal satu atap dengan orang tua, jadi tidak ada biaya sewa rumah atau cicilan KPR.

Makanya, bagi saya uang 5 juta per bulan itu sudah besar. Bisa untuk menutup kebutuhan sehari-hari dan bisa menabung.

menemukan angka cukup
Photo by Aleksandra Sapozhnikova on Unsplash

Saya sudah menemukan angka cukup saya. Maka, dengan begitu saya jadi lebih mudah bersyukur apabila seluruh kebutuhan hidup saya terpenuhi dengan baik.

Nah, itu kan untuk kebutuhan hidup dasar yang saya penuhi. Apakah saya tidak punya nafsu untuk memiliki harta yang lain? Apakah saya benar-benar merasa cukup dengan yang ada sekarang?

Tentu saja, sebagai manusia biasa saya juga memiliki keinginan untuk memiliki harta seperti yang umumnya dimiliki orang lain yang sudah berkeluarga. Rumah pribadi, mobil, tabungan, bisa liburan, naik haji/umrah, dll. Standar lah.

Namun, saya berfikir bahwa semua itu akan ada masanya. Rezeki kita di dunia sudah ditentukan, sudah diatur sama Allah kapan kita akan mencapai itu semua. Bahkan sudah mutlak bahwa manusia tidak akan meninggal dunia kecuali seluruh rezekinya sudah turun.

Jadi, tidak ada alasan lagi untuk mengkhawatirkan apa yang sudah pasti dan sudah dijamin oleh Tuhan.

Jika kita sudah bisa menentukan angka cukup kita, maka kita akan lebih ringan dalam menjalani hidup. Saya sendiri sudah menentukannya. Bagi saya, jika saya memperoleh lebih dari cukup, maka saya menganggapnya itu adalah berkah. Bonus dari Allah.

Misalnya, dalam hal berpakaian. Saya sudah menentukan standar cukup saya sendiri dalam hal berpakaian.

Saya punya patokan yakni 7 gamis 7 jilbab, dimana jika saya sudah memiliki pakaian untuk keluar rumah sejumlah itu, maka saya harus melengserkan yang lain. Saya pun akan mulai mencukupkan diri hidup dengan 7 gamis 7 jilbab tersebut.

Selebihnya, jika saya memiliki pakaian lain yang saya butuhkan untuk digunakan di dalam rumah (daster, celana, kaus, jilbab rumah, pakaian dalam, dll) maka saya akan memilih hanya memiliki beberapa helai saja dan akan saya gunakan dalam jangka waktu yang lama. Saya menganggapnya bonus, karena kebutuhan saya akan berpakaian nyaman sudah terpenuhi.

Adapun jika saya memiliki uang lebih, maka tidak serta merta akan menambah koleksi baju saya. Kalau ingin memasukkan satu baju baru ke lemari, maka harus ada satu baju yang dikeluarkan (boleh dibalik, dikeluarkan dulu baru masukkan lagi pakaian baru).

Dengan demikian, saya bisa konsisten dengan angka cukup saya, tanpa harus menumpuk harta berlebihan. Itu soal pakaian. Benda lain pun sama. 

Saya terbiasa memiliki sepatu tidak lebih dari dua pasang, dan tas tidak lebih dari dua biji. Saya akan berpikir seribu kali untuk menambah koleksi tas dan sepatu, karena saya tidak suka banyak barang bertumpuk di rumah. 

Lebih tepatnya, saya tidak bisa merawat banyak barang. Lebih baik, jika saya ingin menambah koleksi tas dan sepatu, maka saya akan rilis barang lama saya untuk disedekahkan ke orang lain. Seringnya sih, saya pakai sampai betul-betul rusak dan tidak bisa digunakan baru beli lagi.

Nah, dengan demikian, saya sudah menerapakan beberapa hal sekaligus hanya dengan menentukan angka cukup saya. Saya bisa mulai menerapkan ilmu mindfulness atau hidup berkesadaran, slow living alias hidup selow dan juga minimalism (meskipun masih jauh dari penerapan minimalism yang sesungguhnya).

Setidaknya, saya tidak terbebani jika ada orang yang tiba-tiba nyeletuk, “Ih, bajunya kok itu-itu saja sih?”. Saya nggak gampang baper dikatain gitu, ya karena saya tahu standar saya. Saya tidak menetapkan standar hidup saya berdasarkan penilaian orang lain.

Hal yang terpenting adalah saya nyaman menjalani itu semua, dan tidak merepotkan orang lain. Saya tidak bisa memuaskan semua orang, saya cukup bertumpu pada angka cukup saya sendiri.

Jadi, berapa angka cukupmu? Share di kolom komentar ya, sahabat!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *