Karena Udah Banyak : Alasan Kita Nggak Pernah Berkarya

Karena udah banyak.

Ini adalah alasan yang jamak saya temui ketika seseorang ragu untuk memulai suatu proyek atau mau berkarya. Misalnya, kita punya ide bisnis yang bagus. Lalu, saat kita sudah semangat, ternyata teman kita juga sudah membuat atau menjual produk tersebut. Kita semakin ragu, karena makin lama kita makin banyak menemukan orang dengan bisnis serupa.

Akhirnya, kita menyimpulkan bahwa ide bisnis yang kita miliki udah basi, alias udah banyak. Kita gak jadi mulai berbisnis hanya karena udah banyak yang jualan itu.

udah banyak warung kopi
Photo by Ben White on Unsplash

Saya ambil contoh, enam tahun lalu suami saya ingin membuat warung kopi yang ada fasilitas wifi. Saat itu masih jarang ada di kota saya. Namun, beberapa waktu kemudian mulai banyak yang bikin warung kopi sejenis itu. Suami saya nggak jadi bikin.

Sekarang, warung kopi dan cafe kekinian yang jualan kopi (nggak hanya kopi, tapi minuman-minuman kekinian yang harganya puluhan ribu rupiah per gelas) dengan fasilitas wifi sudah menjamur di kota saya dan… Semuanya laku! Suami saya? Nggak jadi bikin karena merasa “udah banyak yang bikin warung wifi”.

Bukan hanya jualan ya. Banyak hal yang kita nggak jadi untuk menjalani dengan alasan tadi : karena udah banyak. Misalnya saja menjadi penulis.

Menjadi penulis, apapun medianya, adalah salah satu jenis profesi yang bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Misalnya menjadi penulis buku. Jika kita menganut paham “udah banyak kok yang nulis buku”, maka kita tidak akan pernah menjadi penulis buku.

Memang sudah banyak yang menulis buku. Ada yang berhasil, ada juga yang tidak. Ada yang bukunya berhasil masuk jajaran buku best seller, ada pula yang sekali cetak 3000 eksemplar tapi butuh waktu tiga tahun untuk terjual. Itupun tidak habis.

Jika kita mundur sebagai penulis buku hanya karena sudah banyak yang nulis, maka kita sudah kalah sebelum berperang. Sama seperti suami saya yang nggak jadi buka warung kopi karena udah banyak yang bikin warung. Padahal, kita memiliki kemampuan untuk menulis, dan karya kita bermanfaat untuk banyak orang ketika SUDAH ADA BUKUNYA.

Pun dengan menulis blog. Menjadi blogger adalah pilihan kita. Apakah kita mau bergerak untuk berkontribusi melalui artikel-artikel yang kita terbitkan di blog, atau menyerah kalah karena merasa : sudah banyak yang bikin blog. Iya, sih, banyak. Tapi bukan kita yang nulis, kan?

Buah pikiran kita yang baik, tidak bisa dimanfaatkan orang lain karena kita urung berkarya. Saya nggak akan jauh-jauh ngomongin monetisasi blog. Mau dipasangi adsense, ikut affiliate marketing, paid post, content placement, atau jualan produk sendiri itu bukan masalah besar.

Masalahnya, kamu mau nggak nulis di blog? Kamu mau nggak memberikan kontribusi dengan ikut berkarya tulisan melalui media blog? Atau mau menyerah aja karena udah banyak yang bikin blog?

Kalau saya, memilih untuk maju dan menjalani semua kemungkinan itu. Menulis di media buku yang diterbitkan oleh penerbit mayor, indie, maupun self publishing akan tetap saya jalani. Karena saya tidak mau kalah sebelum berperang.

Menulis artikel di beberapa blog yang saya kelola, serta menulis artikel untuk blog orang lain juga tetap saya lakukan meskipun banyak orang yang sudah mundur, memilih media lain untuk berkarya (misal di youtube atau tiktok). Karena saya yakin, walaupun sudah banyak yang menulis blog, namun itu adalah karya orang lain. Bukan karya saya.

Saya yakin, bahwa sesuatu yang kita tekuni akan membuahkan hasil di kemudian hari. Bukan hanya materi, namun juga hal lain yang bermakna seperti ilmu yang bermanfaat yang menghasilkan pahala jariyah.

So, buat kamu yang masih ragu untuk berkarya, atau mempelajari sesuatu, ingatlah. Segala hal yang kamu mulai hari ini akan mewarnai masa depanmu dan sepanjang hidupmu. Meski bukan sekarang waktu untuk memetik hasilnya, setidaknya kamu akan punya warisan untuk anak cucumu kelak.

anak ngoding
Photo by stem.T4L on Unsplash

Saya termotivasi untuk mendalami beberapa ilmu, salah satunya adalah mempelajari SEO dan programming. Saya belajar SEO Basic di sini (gratis lho!) serta membaca artikel-artikel di blog dan web yang membahas khusus mengenai SEO. Saya praktekkan satu per satu, meskipun awalnya sangat sulit bagi saya memahaminya (hahaha, ini sih faktor U).

Lebih jauh, saya ingin mempelajari programming, walau hanya sill coding dasar karena masih ada kaitannya dengan dunia blogging dan SEO. Lagian, saya nggak tau, nanti di jaman anak saya remaja, udah kayak gimana perkembangan teknologi.

Setidaknya emaknya rada pinter dan gak gaptek-gaptek amat ya. Bisalah kalau ngajarin dikit-dikit ntar (atau malah dia skillnya yang jauh lebih baik dari saya, saya yang akan belajar sama anak saya nanti). BTW, anak saya masih TK sih. Haha.

Skill selanjutnya yang ingin saya pelajari adalah seo expert dan cara memonetisasi blog. Kamu juga bisa ikutan belajar SEO dll dengan beli kursusnya di sini ya. Saya sih percaya udah banyak yang jago SEO di luaran sana. Tapi sekali lagi, itu bukan saya. Maka saya tetap pengen belajar lebih supaya skill saya bertambah.

Dengan menguasai skill baru, insya Allah akan banyak hal positif yang bisa saya lakukan daripada sekedar membahas sinetron ikatan cinta. Saya juga bisa berbagi ilmu, supaya ilmu saya bermanfaat dan berbuah manis.

Selamat belajar dan berkarya. Pantang mundur sebelum berjuang ya gaes.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *